Kekacauan kemarin ternyata membawa ku keluar dari rumah dan menemukan aku sendiri
Dan disana aku melihat bintang diatas gereja dari sudut tergelap dalam hidup ku
Aku melihat begitu sepi hanya suara malam dan sahabat-sahabatnya yang menemani
Aku enggan membuka diri kepada mereka
Meski ku lihat dengan mata telanjang mereka bergelantungan diatas pepohanan
Tidak ada ketakutan yang menyergap
Seperti berani seketika dalam terowongan waktu yang sesak
Aku duduk berair mata kesedihan
Mengapa hati ku begitu halus untuk seorang perempuan
Tidak mampukah aku lebih tegar dari batu karang
Aku mungkin hanya lelah dengan semua
Dengan kemunafikan yang berselubung wewangian
Seperti manisan
Manisan asam rasanya
Awalnya manis diujung lidah tapi masam dikerongkongan
Tapi malam itu memori manis kembali terkuak
Aku beranjak karena hari semakin larut dan dingin
Aku bergumam bagaimana nanti aku akan melebarkan senyum ku lagi
Lalu kaki ku berjalan pulang berharap aku akan bersembunyi didalam selimut
Tapi ternyata ada dua Puluh Lima menunggu ku didepan rumah ku
Kemeja putih dan sambil mengepul asap rokok
Aku berusaha menahan emosi yang masih tersimpan sedari tadi
Sebenarnya tidak berharap bertemu
Tapi ternyata dia masih sama
Menunggu ku dan masih egois
Aku mengulurkan tangan ku
Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Dua Puluh Lima
Sesaat aku melupakan peluh dihati tentang yang lama diantara aku dan Dua Puluh Lima
Sebab yang baru saja terjadi lebih melelahkan hati dibanding semua kelelahan dengannya
Aku berdiri dan ternyata air mata seakan menjelaskan hati ku
Meleleh bukan karena dia masih berdiri menunggu kepulangan ku
Meleleh karena mengapa aku begitu berbeda dari pada yang lain
Mengapa aku tidak mampu mengikuti arus
Aku selalu melawan arus
Aku sulit diajak menjilat
Aku lebih baik mati
Dari pada menjadi boneka mereka
Lalu Dua Puluh Lima dan aku tenggelam dalam percakapan di trotoar depan rumah ku
Aku melihat dijung matanya terselip setetes basah yang ku tahu itu air mata
Aku mendengar
Aku masih sayang kamu
Aku tertawa
Aku tak percaya
Kebohongan apa lagi darinya
Aku terdiam dan aku mengingat
Banyak hal yang membuat ku pedih jika mengingat dia
Ingin melupakan
Tapi terlalu lama Ia menjagai hati
Malam itu kami telusuri beberapa blok dari rumah
Tidak jauh
Hanya seputaran
Kami melihat kabut dan tubuh mengigil karena dingin
Hati ku tiba-tiba menjadi hangat
Ternyata rasa itu masih ada
Hanya saja
Luka itu terlalu membekas
Entah kapan akan sembuh
Malam itu aku tumpahkan kebencian dalam beberapa tamparan
Aku marah karena menunggu terlalu lama
Untuk datang dan menjelaskan segalanya
Aku menunggu karena masih sayang
Namun Ia malah asyik menjalani hidupnya
Bangsat
Itu yang aku katakan
Aku menampar namun setelahnya aku memeluk
Aku melepaskan segala kebencian malam itu
Kami menangis
Dan Ia menyesali segalanya
Dan seperti hanya aku tempatnya kembali
Kadang aku merasa aku mungkin ditipu lagi
Namun kali ini
Harapanku tidak begitu sama lagi
Ya
Aku kembali memulai yang baru dengan yang lama
Dengan Dua Puluh Lima ku yang selalu aku sayang
Dan masih aku sayang sampai hari ini
Semoga kamu berubah Dua Puluh Lima ku
Seperti yang seharusnya Cinta itu berjalan
Aku masih sama seperti dulu
Sama seperti Dua Puluh Lima mu
***
Diselesaikan pada tanggal;
Soe, 28 Mei 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar