Jumat, 23 Mei 2014

GERAK JALAN SEPERTI MINIATUR KEHIDUPAN

Kupang, 16 Agustus 2012 
(pukul 2:04 p.m)

Masih teringat dengan jelas bagaimana hiruk pikuknya alun-alun kota soe kemarin siang. Banyak orang berdiri mondar-mandir mempersiapkan regunya masing-masing. Yuppzzz...kemarin adalah hari dimana aku mengikuti lomba gerak jalan yang diselenggarakan oleh Pemda TTS dalam menyongsong HUT RI yang ke 67. Banyak regu yang telah hadir dan tersebar dengan berbagai macam kostum olahraganya. Regu yang ku ikuti kemarin merupakan jagoan sekolahnya mama, tempat mama ku mengabdi sebagai guru. Sebenarnya beliau bisa saja ambil bagian, namun beliau tidak begitu tertarik.

Sekitar dua ratus regu yang akan mengikuti perlombaan. Nomer regu kami adalah sepuluh maka barisan kami sudah harus dipersiapkan dipaling depan. Sekitar pukul tiga siang saat itu, alun-alun kota ku berubah menjadi lautan manusia dengan kostum olah raga dengan berbagai macam model. Kami menggunakan kostum olah raga berwarna merah bercampur putih serta biru dongker dan aku merupakan anggota regu yang paling muda. Meski paling muda aku tetap was-was dengan kemapuan ku. Bagaimana tidak, berat badan ku telah mencapai 80Kg dan hampir tiga tahun terakhir ini aku tidak pernah berolah raga. Wajar saja hampir semalaman aku tidak bisa tidur karena takut pingsan, sedikit menggelikan tapi begitulah yang terjadi.

Ketika nomer sembilan dipersilahkan berdiri digaris start, aku sepertinya gugup. Jika teringat kembali aku lupa bagaimana rasanya namun yang teringat sudah lama aku tidak berdiri didepan orang banyak. Rasa malu dan was-was bercampur aduk menjadi satu. Huffttt....aku menghela napas dalam-dalam dan berharap hanya satu hal dalam hati; "semoga aku tidak pingsan, Tuhan!!".

Nomer sepuluh telah dipanggil, kami semua langsung berbaris didepan garis start. Mau tahu, pemimpin regu kami sebenarnya adalah salah seorang guru olah raga, teman guru mama ku. Namun tiba-tiba ada sedikit perubahan, ibu kepala sekolah mama ku yang langsung turun tangan sendiri memimpin kami didalam barisan. Melihat postur tubuh beliau membuat ku sedikit bersemangat dan melepas was-was didalam hati. Dalam hati aku berkata; "ada temenn nehhh, kaloo ibu itu bisa, aku pasti bisa sampai garis finis. Soale badannya lebih tambun sihhh dari aku!!".

" Langkah tegap majuuuuuuu..jalannnn..kiri, kiri, kiri kanan kiri, kiri, kiri, kiri kanan kiri.....!!" Regu kami pun dilepas dari garis start alun-alun kota. Rute perjalanan kami hanya seputaran dalam kota dan memiliki jarak 9 KM. Di kilo meter pertama atau mungkin ke dua, aku tidak merasakan apa-apa seperti sedang berjalan santai, sore-sore plus mataharinya yang masih beria-ria diatas langit sana. Saya melihat kiri-kanan banyak masyarakat yang menonton perlombaan ini. Di kilo meter pertama beberapa regu dibelakang kami mulai merndahului kami. Terdengar suara kasak-kusuk dari dalam barisan kami. Bapak Ibu guru (teman-teman mama ku) ternyata mulai terusik dengan kejadian tersebut. Terdengar sayup-sayup, ada yang mengatakan bahwa langkah kami sangat lambat. Aku merasa lucu, sekilas aku teringat dengan kenangan waktu SMP dulu dimana aku menjadi pemimpin regu. Ternyata tidak gampang menjadi pemimpin. Aku pun terpacu dalam hati, sebenarnya aku mampu hanya saja???...tittt!! Perenungan ku berhenti ketika sudah sampai seperempat perjalanan (itu perkiraan ku). Perut ku tiba-tiba keroncongan, oooouuhggggg...emang tadi aku sengaja tidak makan siang karena takut tidak bisa jalan karena kekenyangan. Dan aku mulai menarik napas dalam-dalam mencoba menahan sakit didalam lambung ku, asamnya mulai naik ke tenggorokan dan feeling ku, aku ingin muntah. Aku terus mencoba mengendalikan pikiran ku, memainkan jari-jari kaki ku agar sedikit rileks. 

Aku pun berhasil mencapai seperlima perjalanan (ini hanya prediksi ku saja). Banyak masyarakat yang keluar rumah dan menonton dipinggiran trotoar. Maklum kota ku kecil dan haus akan hiburan. Gerak jalan sudah menjadi tradisi yang mengeyangkan kami disaat hari-hari penting seperti ini. Beberapa ibu-ibu yang menonton, mengenali beberapa teman-teman mama ku, meneriaki dan mencandai dengan suara-suara yang seru. Aku selalu tertawa manis. Selalu ada hal yang ku tertawakan entah dari respon masyarakat yang menonton atau dari mimik wajah peserta setiap regu yang kulihat. Wajar saja mereka adalah orang-orang tua, apalagi jarang berolah raga. Ada yang sudah berjalan tergopong-gopong dengan langkah yang sudah tak serentak lagi dengan regu mereka. Dalam hati pasti sangat kelelahan namun karena sedang berada dalam barisan maka mereka mencoba tenang dan berusaha mencapai finis. Banyak anak-anak yang mengenali ibu-ibu guru mereka yang sedang berada dalam barisan bersama ku. Ada yang berteriak; "semangat ibu, ayo..ayo!!", dan lebih banyak didominasi oleh suara hiruk-pikuk klakson serta suara deru motor dan mobil yang juga tidak mau kalah dengan kami yang sedang mengikuti perlombaan gerak jalan.

Jalanan kota ku begitu ramai, rasa malu melihat orang banyak pun menjadi minus. Namun kali ini  berganti dengan puncak kelelahan ku. Kaki ku mulai terasa terbakar dalam sepatu. Meski sepatu ku bermerek namun tetap saja rasanya sama. Mungkin sedang dalam proses melepuh dan ternyata memang demikian setiap buku-buku kaki ku tumbuh benjol-benjol kecil berair dan sangat sakit jika terkena benda keras apalagi terkena air dingin.

Ketika sampai pertengahan jalan, kerongkongan ku benar-benar mulai terasa kering. Permen karet yang katanya dapat menghilangkan rasa haus pun tidak mampan lagi. Tiba-tiba mucul dari kejauhan sepasang suami istri dengan mengendarai sepeda motor merah. Sepertinya aku mengenali mereka dan ternyata itu Papa dan Mama ku. Mereka dapat terlihat dari kejauhan karena kami berjalan berlawanan arah.

Aku pun melirik dan mengatakan; "aku haus!!". Mama ku pun memberi segelas air kemasan meski itu dilarang karena takut ketahuan juri. Aku minum hampir dua gelas setengah. Kami pun telah berjalan hingga tengah kota. Kelelahan ku sudah sedikit berkurang. Aku berpikir mungkin kelelahan itu telah sampai ke telapak kaki ku yang sudah merasa kebal karena melepuh. Aku benar-benar merasa hanya kaki ku yang akan menghentikan perlombaan ku ditengah jalan. Tubuh ku stabil, tidak pusing dan rasa laperrr ku hilang karena mungkin angin sore sudah masuk. Namun kaki ku seperti menginjak sesuatu yang tebal dan berduri. Aku menahannya dengan sedikit tertawa melihat antusiasnya setiap regu yang melewati barisan kami. Dapat ku hitung ada dua belas regu yang mendahului kami. Aku pun melirik pemimpin regu, beliau tampaknya benar-benar sudah tidak kuat lagi melangkahkan kakinya. Beliau berjalan semakin lambat. Kami pun berdiri hampir sejajar padahal aku berada di barisan ketiga paling belakang.

Di seperdelapan perjalan, tanjakan ke lima yang kami daki. Benar-benar membuat napas ku hampir habis. Untung ada banyak masyarakat yang sedang menonton, berani sepi aku sudah minta berhenti saat itu. Tapi aku mencoba memikirkan hanya akan mendaki dua tanjakan lagi dan setelah itu finis. Yang selalu aku pikirkan adalah jika aku sampai di garis finis dan menikmati setiap kejadian lucu yang terjadi didalam perjalanan. Kaki ku memang sudah melepuh bahkan tak tahu lagi bagaimana kulit kaki ku jadinya. Aku terus berjalan dan terus berjalan, memperhatikan agar langkah ku tetap serentak sehingga barisan kami terlihat kompak. Aku berpikir ternyata hanya itu tugas ku. Menjaga agar kaki ku tetap serentak dan sejajar maka aku akan sampai digaris finis.

Kali ini benar-benar sampai pada tanjakan yang terakhir, aku masih dalam kondisi stabil seperti tadi. Namun terlihat pemimpin regu dan beberapa teman mama ku yang sudah mulai kelihatan memperlambat langkah mereka. Diam-diam aku memperhatikan memimpin, ada rasa was-was didalam hati karena tampaknya beliau sudah mulai memperlambat langkah dan sepertinya akan segera tumbang karena dehidrasi. Namun semangat itu terlalu membara untuk mencapai garis finis. Rasa malu sepertinya menjadi dorongan yang kuat untuk melangkahkan kaki meski sebenarnya mata itu telah dikelilingi oleh kunang-kunang dan akan hampir gelap. Bahkan jika ada satu tanjakan lagi maka kami selesai.

Barisan kami terus melangkah dengan serentak setelah melewati tanjakan yang terakhir. Suara sayup-sayup pemimpin kami mengumandakan semangat yang masih tersisa. Kami pun terus berjalan hingga belokan yang terakhir dan nampak dari kejauhan alun-alun kota. Kaki yang tadi begitu lelah, semangat yang tadi akan segera tumbang kembali mekar seketika. Bagaimana tidak barisan kami telah mencapai finis di menit yang ke lima puluh dua. Mungkin satu jam lewat lima puluh dua menit atau lebih itu tidak masalah bagi ku. Yang terpenting aku sampai di garis finis dengan selamat dan satu hal, aku tidak pingsan.

Itulah sepenggal cerita ku kemarin sewaktu berpartisipasi dalam lomba gerak jalan, menggantikan mama ku. Dapat dikatakan, perjalan hidup itu seperti mengikuti gerak jalan. Kadang sebelum melangkah kita sudah takut untuk memulai.  Sering kelelahan hidup menghampiri kita. Dan pada kenyataannya hal yang kita pikir kelemahan merupakan kekuatan bagi kita, misalnya disaat ingin berhenti hanya karena rasa malu ditonton orang banyak saya terus berjalan. Hal tersebut juga dapat berlaku dalam keseharian kita. Seharusnya kelemahan kita menjadi motivator terbesar, seperti batu yang membantu kita melompat lebih jauh.

Hidup itu butuh perjuangan agar kita dapat menjadi manusia yang mampu memaksimalkan kekuatan yang Tuhan beri. Kita bukan pecundang yang akan berhenti ditengah jalan, kita adalah pemenang yang akan terus berjalan meski kekuatan ini hampir habis. Dan yang terpenting kita tidak pernah lupa diri bahwa untuk sampai ke garis finis kehidupan ini, kita butuh Tuhan dan juga orang-orang disekitar kita, baik dengan senyuman maupun mata yang sinis !! 

KITA KUAT BERSAMA TUHAN ^^ JAH BLESS

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar